Menjadi Pahlawan dengan Hidup Sehat

Sesuai dengan UU Kesehatan No. 36 tahun 2009, dinyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga mental, spiritual, sosial, dan ekonomi sehingga upaya kesehatan yang dibutuhkan mencakup promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Kesehatan Masyarakat
Kesehatan masyarakat memiliki peran yang penting dalam menunjang kesehatan Indonesia karena mereka membangun kesehatan menerapkan upaya-upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif di masyarakat. Makna kesehatan masyarakat menurut Winslow (1920) adalah ilmu dan seni yang bertujuan mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat seperti perbaikan sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit-penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan, dan pengobatan, serta pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatan (Notoatmodjo, 1996).
Tenaga Kesehatan Masyarakat
Saat ini, paradigma kesehatan yang berkembang di Indonesia tidak jauh dari seputar kesehatan fisik yang notabene lebih dikuasai oleh tenaga medis. Padahal, dua aspek lain yang mencakup aspek sosial dan ekonomi bukan termasuk ke dalam ranah yang dapat dikuasai oleh tenaga dokter, melainkan tenaga kesehatan Masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan pendataan jumlah tenaga kesehatan lebih terfokus dalam pendataan tenaga yang bergerak dalam upaya kuratif-rehabilitatif.
Hingga pada tahun 2008, jumlah tenaga kesehatan yang terhitung dalam profil kesehatan ialah dokter, dokter gigi, bidan, dan mantri beserta tenaga kesehatan lain. Penjabaran masing-masingnya ialah tenaga dokter sebanyak 44.759 dengan rasio rata-rata 19.59 per 200.000 penduduk, dokter gigi sebanyak 7.649 dengan rasio 3.35 per 100.000 penduduk, bidan sebanyak 98.074 dengan rasio 42.92 per 100.000 penduduk, dan yang terakhir mantri beserta tenaga kesehatan lain—termasuk perawat sebanyak 80.605 orang (Depkes RI, 2009). Dari data tersebut, tidak ada angka spesifik yang mampu menunjukkan jumlah tenaga ahli kesehatan masyarakat. Namun, jika digabungkan dengan data Depkes RI lainnya, ditemukan bahwa jumlah perawat yang tersebar di seluruh puskesmas Indonesia ialah sebesar 55.194 orang (Depkes RI, 2009). Jika lebih jauh diasumsikan, jumlah seluruh tenaga kesehatan masyarakat dapat diperkirakan dari hasil total jumlah mantra beserta tenaga kesehatan lain (termasuk perawat) yang dikurangi dengan jumlah seluruh perawat di Indonesia. Total pengurangan tersebut akan ditemukan jumlah tenaga kesehatan masyarakat sekitar 25.411 orang.
Dengan perkiraan jumlah tenaga kesehatan masyarakat tersebut, pun tenaga kesehatan masyarakat di Indonesia masih tergolong sedikit. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan usaha untuk mempromosikan paradigma kesehatan yang bersifat promotif-preventif demi membantu pembangunan kesehatan yang lebih baik dan berkelanjutan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memperjuangkan paradigma sehat tersebut ialah dengan memanfaatkan peran akademisi yang berasal dari ranah kesehatan masyarakat.
Pemuda sebagai Pahlawan Kesehatan
Mempromosikan kesehatan di masyarakat luas tidak sesulit yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Padahal, melakukan reformasi tidak mesti dilakukan melalui hal-hal yang besar. Kesehatan telah menjadi hal yang sangat krusial sehingga hampir seluruh upaya promosi kesehatan pasti mampu didukung dengan latar belakang yang kuat untuk diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, seorang akademisi—khususnya yang bergerak di ranah kesehatan masyarakat—memiliki peran yang begitu penting dalam menemukan dan menerapkan isu kesehatan yang penting untuk diberikan ke masyarakat. Pemuda adalah aset bangsa yang begitu berharga. Pemuda yang berkompeten dan penuh energi tentu akan dilihat sebagai sosok yang meyakinkan di masyarakat.
Aksi nyata dalam mereformasi kesehatan dapat dilakukan melalui cara-cara yang simpel, misalnya dengan cara turun langsung melakukan gerakan basis ke masyarakat, seperti mengadakan kerja bakti di lingkungan RT, memberi konseling remaja tentang kesehatan reproduksi, menanam pohon, hingga bahkan hanya dengan membuang sampah di tempatnya. Seluruh gerakan ini merupakan beberapa kegiatan sosial yang sebenarnya mendukung visi dalam menciptakan paradigma sehat di masyarakat.
Aksi nyata lainnya ialah dengan mengkoordinasikan mahasiswa kesehatan masyarakat untuk selalu mengembangkan keilmuan mereka. Cara paling simpel yang dapat digunakan minimal seperti menerbitkan buletin kesehatan masyarakat yang terbit secara berkala setiap bulan, melakukan temu keilmuan yang bukan hanya membahas isu-isu terkini kesehatan masyarakat, tetapi juga menuliskan pembahasan tersebut sebelum akhirnya diterbitkan ke dalam media blog, website, dan lain sebagainya.
Dibutuhkan suatu wadah yang mendukung mahasiswa dalam mengekspresikan, mengembangkan dan memanfaatkan ilmu kesehatan masyarakat mereka, yakni dimulai dari sekedar mempromosikan paradigma kesehatan masyarakat yang terdiri dari promotif-preventif (melalui pembiasaan diri dengan perilaku hidup bersih dan sehat, gerakan basis, menerbitkan bulletin) hingga menciptakan iklim keilmuan kesehatan masyarakat yang jauh lebih maju seperti melakukan dan mengembangkan penelitian kesehatan masyarakat. Dengan demikian, pemuda pun dapat terbukti mampu menjadi pahlawan kesehatan bagi masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: