[19 November] Happy World Toilet Day, cheers!

Jarang ada yang mengetahui kalau hari ini adalah hari Toilet sedunia. Ditiupkannya kampanye ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan yang mengisukan sanitasi sebagai hak asasi setiap manusia sehingga siapapun orangnya berhak untuk mengakses/memiliki sanitasi yang baik. Dan sore ini, saya menemukan satu-satunya inbox dan kebetulan memiliki judul subjek unik berbunyi “Happy World Toilet Day, Cheers!!”

Di negara berkembang, sebanyak 80% air limbah yang belum diolah diteruskan ke danau, sungai hingga lautan. Sebagai konsekuensinya, diare menjadi salah satu penyebab kematian terbesar kedua untuk anak di bawah usia lima tahun. Masalah sanitasi di Indonesia masih dianggap hal yang dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari tingginya penyakit yang muncul akibat sanitasi yang buruk. Salah satu penyakit yang muncul akibat sanitasi yang buruk ialah Diare. Berdasarkan hasil survey Subdit diare Departemen Kesehatan P2PL Republik Indonesia, angka kesakitan diare untuk semua umur pada tahun 2000 ialah 301/1000 penduduk, tahun 2003 ialah 374/1000 penduduk, serta tahun 2006 ialah423/1000 penduduk. Angka tersebut dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Kasus diare yang terjadi pada umumnya diderita oleh anak-anak. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2001, kematian diare pada ialah 75,3/1000 untuk balita dan 23,2/100.000 untuk penduduk semua umur. Selain itu, diare menjadi penyebab kematian nomer empat (13,2%) pada semua umur dalam kelompok penyakit menular. Data terbaru, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007, ditemukan bahwa diare memiliki proporsi tertinggi pertama terhadap kematian bayi postneonatal (31,4%) dan pada anak balita (25,2%).

The Committee on Economic, Social and Cultural Rights mengatakan bahwa sanitasi merupakan hak asasi manusia. Seluruh masyarakat, kaya maupun miskin, berhak memperoleh akses sanitasi yang baik. Hal ini karena sanitasi dapat mempengaruhi kesehatan mereka. Hal ini sejalan dengan apa yang didefinisikan dalam UU Kesehatan No. 36 tahun 2009 yang menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pernyataan komite tersebut juga diamini oleh seorang ahli independen PBB di bidang sanitasi dan air, Ms. de Albuquerque.

Dengan memahami sanitasi sebagai hak asasi manusia, yang secara inheren berkaitan dengan martabat manusia, sama halnya dengan kita menempatkan sanitasi sebagai kewajiban yang dilakukan oleh Negara karena sanitasi telah terikat secara hukum terhadap hak asasi manusia. Sanitasi bukan lagi masalah amal. Negara harus menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menjamin akses sanitasi yang baik. Negara harus memiliki visi tentang bagaimana untuk memperpanjang akses berkelanjutan sanitasi terjangkau seluruh masyarakat, kaya maupun miskin (Ms. de Albuquerque, Ahli independen PBB bidang Air dan Sanitasi-Water Supply and Sanitation Council).

Dengan kata lain, hari toilet sedunia ini dihadirkan bukan semata-mata tanpa alasan. Hak untuk air dan sanitasi sekarang diakui secara internasional, dan hal ini harus ditanggapi oleh para partisi kesehatan agar dapat semakin fokus dalam pelaksanaan hak asasi manusia ini. Hingga akhirnya hal ini dapat terealisasi bagi miliaran orang yang membutuhkan dan masih kekurangan akses sanitasi yang baik.

alin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: