Selamat Hari Cuci Tangan se-Dunia

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar, ditemukan bahwa persentase kebiasaan CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) masih belum mencapai angka 50%. Padahal, penyediaan dana kurang lebih sebesar Rp. 30.000,00 dapat menyelamatkan masyarakat hingga 100.000 orang dari penyakit (Pedoman HCTPS, 2009).

Program cuci tangan pakai sabun merupakan bagian dari PHBS di rumah tangga sebagai upaya pemberdayaan anggota rumah tangga agar sadar, mau, dan mampu melakukan PHBS. Dengan melakukan PHBS, masyarakat berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat seperti memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, dan melindungi diri dari ancaman penyakit. Dalam rapat umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, ditetapkan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) yang pertama pada tanggal 15 Oktober 2008. Ini merupakan wujud seruan mengenai perlunya meningkatkan praktek personal hygiene dan sanitasi di seluruh dunia. Selain itu, fakta ditetapkannya hari CTPS sedunia merupakan wujud kepedulian PBB terhadap kebersihan diri masyarakat dunia, di mana tidak hanya negara-negara berkembang seperti Indonesia yang mengalami kesulitan membiasakan masyarakat melakukan CTPS, tetapi juga negara-negara maju lainnya.

Ada merupakan lima fakta tentang CTPS yang dipromosikan pada Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) (Depkes RI, 2009),

1. Mencuci tangan dengan air saja tidak cukup.
2. Mencuci tangan pakai sabun bisa mencegah penyakit yang menyebabkan kematian jutaan anak-anak setiap tahunnya.
3. Waktu-waktu kritis CTPS yang paling penting adalah setelah ke jamban dan sebelum menyentuh makanan (mempersiapkan/ memasak/menyajikan dan makan).
4. Perilaku CTPS adalah intervensi kesehatan yang “cost-effective” .
5. Untuk meningkatkan CTPS memerlukan pendekatan pemasaran sosial yang berfokus pada pelaku CTPS dan motivasi masing-masing yang menyadarkannya untuk mempraktikkan perilaku CTPS.

Selanjutnya, di Indonesia diperkenalkan lima waktu terpenting untuk melakukan cuci tangan pakai sabun, yaitu

1. Setelah ke jamban,
2. Setelah membersihkan anak yang buang air besar (BAB),
3. Sebelum menyiapkan makanan,
4. Sebelum makan,
5. Setelah memegang/menyentuh hewan

Praktik CTPS yang benar memerlukan sabun dan sedikit air mengalir. Air mengalir dari kran bukan keharusan, yang penting air mengalir dari sebuah wadah bisa berupa botol, kaleng, ember tinggi, gentong, jerigen, atau gayung. Tangan yang basah disabuni, digosokgosok bagian telapak maupun unggungnya, terutama di bawah kuku minimal 20 detik. Bilas dengan air mengalir dan keringkan dengan kain bersih atau kibas-kibaskan di udara.

Kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sangat penting untuk dilakukan oleh masyarakat. Namun kenyataannya, lima dari kondisi yang memerlukan penerapan perilaku CTPS, oleh studi BHS (Basic Human Services) di Indonesia pada tahun 2006 ditemukan bahwa perilaku cuci tangan setelah buang air besar hanya dilakukan oleh 12% masyarakat, lalu baru 9% masyarakat melakukannya setelah membersihkan tinja bayi dan balita, 14% masyarakat melakukan sebelum makan, 7% masyarakat melakukan sebelum memberi makan bayi, serta 6% masyarakat melakukan sebelum menyiapkan makanan. Hal tersebut membuktikan rendahnya perilaku cuci tangan di masyarakat Indonesia. Jika persen perilaku cuci tangan di masyarakat meningkat, hal ini tentunya dapat mengurangi jumlah kejadian Diare di Indonesia.

Wah, wah.. Kalau melihat kenyataan ini tentu kita bisa tahu sendiri kan seberapa besar kepedulian masyarakat terhadap Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun ini.

Guilin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: