Selamat Hari Kesehatan Sedunia; hati-hati dengan Kucing dan Anjing Liar

Pada tahun 2000 yang lalu telah dideklarasikan Piagam Kesehatan Dunia yang isinya adalah Health for All. Sampai sekarang masih banyak masyarakat dunia yang tidak memperoleh hak kesehatan. Banyak Penyakit, wabah, dan bencana yang timbul karena lingkungan buruk.

Tulisan di atas kurang lebihnya merupakan bunyi dari SMS dari teman saya di rabu pagi yang cukup cerah ini. Membaca kalimat singkat itu, sesaat saya sempat merenung mengenai cermin kesehatan dunia saat ini.

Tahu tidak, kalau kesehatan itu merupakan hak bagi setiap tubuh kita. Dan sudah menjadi kewajiban dari kita (pemilik tubuh) untuk selalu menjaga kesehatan badan. Dan lagi, semua penyakit yang masuk ke dalam tubuh pasti dapat dicegah oleh kita. Namun kenyataannya, masih ada begitu banyak orang di dunia ini yang sakit karena kekurangpedulian mereka dalam menjaga kesehatan.

Dokumen Internet

Mencegah lebih baik dari pada mengobati

Tema yang diusung pada Hari Kesehatan Dunia tahu ini ialah “Urbanisasi dan Kesehatan” di mana Urbanisasi dianggap memiliki pengaruh kesehatan yang sangat mengglobal. Kalau di Indonesia, tema umum ini akan disubtemakan lagi menjadi “Kota Sehat, Warga Sehat.”

Menanggapi tema tersebut, saya jadi ingin mengangkat Populasi dan Lingkungan dalam tulisan ini karena sadar atau tidak,  kurang lebih 40% penyakit yang menyerang manusia itu merupakan penyakit yang diakibatkan oleh kekurangperhatian kita terhadap kebersihan, baik kebesihan diri, maupun kebersihan lingkungan. Saya merasa hal ini tentunya sudah menjadi pengetahuan umum di masyarakat. Sayangnya menurut saya masih banyak sekali masyarakat yang belum menerapkan hal ini dalam kehidupan mereka.

Contoh kecil yang ingin saya ambil di sini ialah mengenai Kucing liar. Kalian tau apa itu kucing? Ya, Kucing menurut KBBI adalah binatang yang rupanya seperti harimau kecil, serta biasa dipiara orang. Sedang Anjing menurut KBBI adalah binatang menyusui yg biasa dipelihara untuk menjaga rumah dan berburu. Sehari-harinya, kita bisa menemukan hewan-hewan ini berjalan di sekitar-sekitar rumah, atap, kolong meja kantin, dapur kantin, atau sedang mati berdarah-darah di jalanan.

Kucing dan Anjing (selanjutnya disebut Kucang) liar merupakan dua dari sekian banyak hewan penyebab zoonoses (penyakit yang bersumber dari hewan). Zoonoses telah mempengaruhi kesehatan manusia selama berabad-abad dan binatang-binatang liar memiliki pengaruh yang besar dalam hal itu (Wheelis,et al., 2002).  Salah penyakit zoonoses ialah seperti rabies, yakni merupakan sejenis penyakit yang telah diidentifikasikan pertama kali psejak asa Mesopotamia dalam perburuan anjing di awal 2.300 SM (Marr dan Calisher, 2003). Dan sebenarnya, jumlah total penyakit zoonosis yang diketahui pada tahun 2001 ialah 62% dari 1.415 penyakit yang bersifat pathogen pada manusia(Taylor, et al., 2001).

Di Amerika serikat, lebih dari 50.000 anak kucing & anjing lahir setiap harinya. Dari sekian banyak anjing dan kucing ini hanya 1/5 nya yang bisa mendapatkan rumah, sisanya berkeliaran secara liar, terabaikan atau mendapat perlakuan kasar. Setiap tahunnya, 6-8 juta (anjing) & kucing ini masuk penampungan hewan dan sekitar setengahnya (3-4 juta) harus di euthanasi karena tidak ada yang ingin memelihara mereka.

Di Amerika Serikat terdapat sekitar 4.000 – 6.000 penampungan anjing & kucing. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya mempunyai beberapa penampungan hewan.

Sebenarnya, Kucang bukanlah hewan yang berbahaya bagi manusia. Hanya saja, naas bagi Kucang-Kucang liar, mereka yang hidupnya tidak terpelihara tentulah rentan sekali menerima penyakit. Dan parahnya, apabila tanpa sengaja Kucang-Kucang tersebut suatu waktu hadir di sekitar manusia, tentunya hal itu bisa sangat parah. Biaya pengobatan hingga di Indonesia hingga saat ini masih tergolong mahal. Dan jika hal ini terus-menerus dibiarkan, maka bisa saja alokasi dana kesehatan berkurang. Dan lagi, belum tentu orang-orang yang sudah terlanur terserang penyakit itu bisa sembuh total. Bisa saja mereka menjadi salah seorang golongan carrier, yang meskipun tidak memiliki manifestasi klini di tubuh mereka, tapi mereka mudah sekali menularkan penyakit mereka ke orang-orang lain.

Over Population- nya Kucang-Kucang liar pun dapat menimbulkan masalah sosial lain tersendiri. Yah, Kita tahu, kan. Hidup di Jakarta sudah terasa sempit sekali saat-saat ini. Padahal itu baru saja dipenuhi oleh manusia, bagaimana kalo populasi yang sudah banyak itu ditambah lagi dengan populasi Kucang? Hhe,.

Solusi

Beberapa tahun yang lalu, pernah muncul surat perintah (dan benar-benar dilaksanakan) untuk membunuh Anjing dan Kucing Liar T_T. Saya merasa ini bukan solusi terbaik, sih. Tapi bagaimana, ya? Kalau pemerintah disuruh membuat penangkaran hewan, tentu nbutuh biaya yang banyak. Walaupun saya yakin kalau biaya yang dihabiskan untuk membuat penangkaran hewan liar ini, pasti akan berefek jangka panjang, dan secara nominal pasti bisa jauh menekan harga pengobatan penyakit zoonoses berkepanjangan. Masalahnya, saya gak yakin kalau pemerintah mau.

Tapi gimana, ya? saya ini kurang suka dengan acara bunuh-membunuh, baik hewan maupun manusia. Jadi saya gak setuju dengan solusi yang main ‘bunuh-bunuhan’ itu.

Sebagai calon ahli kesehatan masyarakat yang profesional (amin), maka saya lebih menyarankan pembuatan penangkaran hewean liar aja. Trus, kalo kalo mau main bunuh-bunuhan, ya bunuh hewan yang udah pasti suspect aja.

Lalu, alangkah baiknya kalo selanjutnya ada yang namanya KB Hewan. Hhe,. jadi bukan cuma manucia saja yang bisa ditekan laju pertumbuhan populasinya, tapi hewan juga. [alin]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: