KUSTA, APAKAH KUTUKAN TUHAN??

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 31 januari 2010 kita telah memperingati hari kusta sedunia.  Lazimnya, seperti negara-negara di dunia, Indonesia juga ikut memperingati hari kusta tersebut.   Indonesia adalah salah satu negara pandemi penyakit kusta.  Penyakit kusta tersebar di Indonesia secara tidak merata.  Hari kusta sedunia diperingati sebagai  hari penggalangan solidaritas dan  kepedulian masyarakat terhadap kusta karena  beberapa propinsi di Indonesia memiliki prevalensi tinggi terhadap penyakit kusta, antara lain, Papua Barat, Papua, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Aceh dan DKI Jakarta.

Kusta atau Leprae adalah penyakit yang menyerang syaraf tepi, kulit, dan organ tubuh dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi dengan normal.  Kusta disebabkan oleh bakteri yang tahan  asam, gram positif, yaitu Mycobacteriun Leprae.  Penularan kusta dapat terjadi melalui kontak langsung dengan penderita dan udara pernapasan.  Namun, hal ini tergantung dari imunitas tubuh individu.  Jika imunitas tinggi kemungkinan untuk menderita penyakit ini sangat jarang.  Gejala klinis dari penyakit kusta ini membutuhkan waktu yang lama.  Masa inkubasi dari bakteri ini bisa 2 minggu, 1 tahun, dan 5 tahun, bahkan dapat sampai 12 tahun tergantung dari kekebalan individu. (www.google.com)

Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka dan mati rasa karena kerusakan saraf tepi.

Jumlah penderita kusta di beberapa negara di dunia yang pernah mengalami pandemi menurun tajam dari tahun ke tahun.  Namun, di Indonesia justru meningkat.   Duta Misi Lepra Internasional untuk Indonesia A.B Susanto di Jakarta mengatakan bahwa jumlah kasus lepra baru di dunia yang tahun 2001, 760 ribu turun tajam menjadi 210 ribu kasus pada awal 2008. Di Indonesia yang tahun 2002 jumlah kasus barunya baru 12 ribu pada awal tahun 2008 malah bertambah menjadi sekitar 17 ribuan.  Dan juga menjadi berita hangat di beberapa media baru-baru ini, Indonesia menjadi negara nomor 3 di dunia yang penduduknya menderita kusta terbanyak setelah Brazil dan India.  Hal ini sungguh sangat ironis yang bertepatan dengan hari kusta sedunia.  Untuk apakah kita memperingati hari kusta setiap tahun namun tiap tahun pula penderita kusta makin meningkat?

Di Indonesia, jumlah penderita baru tahun 2008 adalah 17.243 dan 29% darinya berasal dari Jawa Timur. Penyakit Kusta di Jawa Timur masih merupakan masalah kesehatan terutama di 15 kabupaten atau kota yang berada di pantai utara Pulau Jawa dan Madura karena prevalensi masih di atas 1/10.000. (www.google.com)

Jawa timur adalah propinsi yang penderita kusta paling tinggi.  Hal ini sangat memprihatinkan.  Di era globalisasi, di mana kesehatan makin membaik dan teknologi makin maju,  penyakit kusta belum dapat diatasi.  Kusta adalah penyakit kuno yang muncul 2000 tahun yang lalu.  Apakah karena penyakit lama, Indonesia mengabaikannya atau bahkan melupakan penyakit tersebut?  Mengapa penyakit kusta sulit di atasi?

Hal ini sangat sulit dipercaya, kusta adalah penyakit yang tidak membahayakan dan  mematikan seperti Flu burung dan HIV AIDS.  Namun, kusta ini menimbulkan kecacatan jika tidak diketahui sejak dini.  Penyakit ini timbul dalam jangka waktu yang lama.  Hal ini menyebabakan sulit terdeteksinya kusta sejak dini.  Apabila sejak awal sudah terdeteksi terdapat bakteri penyebab kusta, penyakit ini tidak akan menimbulkan kecacatan.  Selain itu, penyakit kusta adalah penyakit menular yang sulit menular karena tiap individu memiliki kekebalan normal terhadap bakteri tersebut.

Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa penyakit kusta hanyalah sekedar sejarah kelam masa lalu. Kenyataannya tidak seperti anggapan  banyak orang,  penderita penyakit kusta di Indonesia justru meningkat.  Tantangan lain yang tidak kalah beratnya adalah aspek sosial psikologis yang ditanggung oleh para penderita penyakit kusta. Mereka mendapat stigma, dan kemudian menjadi korban tindakan diskriminatif, dikucilkan dari pergaulan sosial, dan sulit memasuki lapangan kerja secara fair.

Selain itu, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa penyakit kusta adalah kutukan dari Tuhan Yang maha Esa atas dosa-dosa yang pernah dibuat, dan kutukan itu diyakini dapat mendatangkan bencana. Penderita kusta terisolisasi dan dikucilkan dari masyarakat luas.  Bahkan,  mereka tidak diakomodir dengan baik oleh masyarakat umum dan juga beberapa instansi.  Mereka dianggap sebagai orang yang perlu dikasihani atau bahkan dihindari dalam artian tidak diberikan kesempatan untuk berapresiasi dalam hidup mereka.

Kurangnya kesadaran dari penderita kusta untuk berobat juga merupakan alasan meningkatnya kusta di Indonesia.  Dan juga kurang sosialisasi dari tenaga kesehatan untuk memberikan pengetahuan kepada penderita kusta dan masyarakat yang sehat.

Penularan penyakit kusta bisa melalui kontak langsung dan udara.  Biasannya penyakit ini melanda di tempat yang  kepadatan penduduknya  tinggi seperti di Jawa Timur.  Selain itu, sanitasi yang buruk dan perilaku individu yang tidak menerapkan perilaku hidup bersih sangat menunjang penularan penyakit ini.  Oleh karena itu, untuk mengantisipasi agar penderita kusta tidak bertambah banyak, maka seharusnya petugas kesehatan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat melakukan pemeriksaan terhadap masyarakat miskin di berbagai daerah.  Faktor kemiskinan, sumber daya manusia yang rendah, dan kurangnya pemahaman tentang kebersihan lingkungan mendorong seseorang berpotensi terserang penyakit kusta.

Penyakit kusta dapat dicegah dengan cara masyarakat rajin memeriksakan diri ke puskesmas agar diketahui sejak dini.  Menciptakan lingkungan dan sanitasi yang bersih di masyarakat.  Menjaga hidup bersih dan daya tahan tubuh seseorang harus baik.  Oleh karena itu, kita harus makan makanan yang bergizi.

Sebenarnaya pemerintah telah melakukan  program untuk mengatasi penularan kusta, yaitu membuat perkampungan khusus kusta.  Perkampungan itu tujuannya untuk memudahkan pengobatan penderita kusta  dan mengurangi risiko penularan ke orang lain.  Namun, apakah efektif cara seperti ini?  Ini secara tidak langsung mengisolasi para penderita kusta dengan dunia luar.  Mereka akan dikucilkan dari masyarakat luas.  Mereka dianggap monster yang sangat menakutkan oleh masyarakat awam.  Kusta bukanlah penyakit yang membuat orang mati seketika, seperti penyakit menular lainya.  Akan tetapi, bisa dikatkaan sebagai penyakit kronis.  Penyakit ini menimbulkan banyak masalah sosial dan ekonomi bagi penderitanya.  Dibutuhkan peran serta  mantan penderita kusta dan penderita berbicara secara terbuka di dalam masyarakat itu sendiri agar mereka tidak dikucilkan di masyarakat.  Kita tidak boleh menafikkan mereka dari segala usaha kita dalam mengentaskan masalah kusta.  Sayang, selama ini kita kurang memberdayakan mereka.

Akan tetapi, untuk mencapai semua usaha tersebut tidaklah mudah, ternyata stigma-stigma yang terjadi di dalam masyarakat dan juga penyandang kusta masih besar.  Di beberapa tempat masih sangat ekstrim, setiap langkah dari penderita kusta dianggap sangat berbahaya dan akan menjangkitkan penyakit tersebut ke orang lain.  Padahal penyakit ini adalah penyakit menular yang paling lambat menular dibanding penyakit menular lain.  Stigma inilah yang membuat penyandang kusta hidup berkelompok, dan mengelompokkan dirinya, yang pada akhirnya malah membuat permasalahan makin menumpuk.  Hanya sedikit presentase dari penderita kusta yang mampu mengembangkan dirinya secara mandiri.

Kita tahu bahwa Indonesia sangat lamban dalam mengembangkan dan memberdayakan penderita kusta.  Apalagi kita sampai sekarang belum menerapkan dan memperhatikan undang-undang yang memilki konsekuensi dalam menerapkan azas-azas hak asasi manusia bagi orang-orang cacat.  Pemerintah dan tenaga kesehatan harus bekerja keras untuk menanggulangi maslah kusta.

Kita mengetahui bahwa kusta dapat disembuhkan dengan terapi, yaitu dengan obat yang disebut Multi Drug Therapy (MDT) yang didapat gratis di puskesmas. Untuk tipe paucibacillary (PB) memerlukan waktu 6 bulan, sedangkan tipe multibacillary (MB) lebih lama yaitu sekitar 1 tahun. Seharusnya  tidak ada alasan untuk tidak mengurangi jumlah penderita kusta di Indonesia. Penderita kusta yang diobati dini bisa mencegah timbulnya cacat dan akan sembuh sempurna.  Setelah diobati kusta tidak menular ke orang lain.

Namun, masalahnya sekarang jika penyakit kusta tersebut hanya diobati dan tidak dilakukan pencegahan sama saja bohong karena kunci utamanya adalah pemberantasan dari agent penyebab kusta, yaitu Mycobacterium leprae.

Mulai dari sekarang kita, tenaga kesehatan, instansi pemerintahan, swasta, dan masyarakat harus bekerja sama untuk memberantas penyakit kusta ini.  Masyarakat dan penderita kusta juga harus menjaga perilaku hidup bersih agar terhindar dari penyakit kusta dan penyakit-penyakit lain.  Diharapkan pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan untuk membantu meringankan penderitaan mereka.  Tenaga kesehatan memberikan pendidikan, penyuluhan, dan sosialisasi mengenai penyakit kusta dan masalah kesehatan.  Masyarakat diharapkan dapat menghapus stigma-stigma yang negatif terhadap penderita kusta dan mau menerima mereka di lingkungan kita.  Dengan begitu derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat tercapai. [erni]

REFERENSI

Soedarto,Dr., Ph.D..1990. Penyakit-penyakit Infeksi di Indonesia. Jakarta : Widya Medika.

www.kabarindonesia.com. (4 Februari 2010)

cewektanpaekspresi.blogspot.com. (4 Februari 2010)

hospitalplanner.multiply.com. (4 Februari 2010)

kesehatan.kompas.com. (4 Februari 2010)

beritadaerah.com. (4 Februari 2010)

www.blogcatalog.com. (4 Februari 2010)

http://www.tipskeluarga.com. (4 Februari 2010)

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: