Ketika Penyakit Zoonosis Diperhatikan

Asal Muasal Zoonoses

Zoonoses telah mempengaruhi kesehatan manusia selama berabad-abad dan binatang-binatang liar memiliki pengaruh yang besar dalam hal itu. Sebagai contohnya ialah Bubonic plague, bakteri penyakit yang terdapat pada tikus dan kutu-kutu berperan penting dalam transmisinya hingga pada akhirnya menyebabkan  penyakit substansial yang dapat menyebabkan kematian yang besar sejak berabad-abad lalu (Wheelis,et al., 2002).  Penyakit selanjutnya ialah Rabies yang diidentifikasikan pertama kali pada masa Mesopotamia dalam perburuan anjing di awal 2.300 SM. Selanjutnya Rabies juga diidentifikasi di China, Mesir, Yunani, dan Romania. Berabad-abad yang lalu, sebuah hipotesis modern baru-baru ini menduga bahwa Alexander Agung yang meninggal pada tahun 323 SM, meninggal karena penyakit Ensephalitis yang disebabkan oleh West Nile Virus, yakni sebuah virus yang ditemukan pada unggas liar (Marr dan Calisher, 2003).

Permasalahan Zoonoses di Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini, dunia mengalami sejumlah kejadian munculnya emerging dan re-emerging zoonoses yang mengkhawatirkan, Kemunculan penyakit-penyakit zoonosis tersebut dipicu oleh iklim, habitat, faktor kepadatan populasi yang mempengaruhi induk semang, pathogen atau vektor. Seringkali menyebabkan peningkatan secara alamiah dan penurunan aktivitas penyakit di suatu wilayah geografis tertentu dan selama berbagai periode waktu.

Penyakit zoonosis yang masuk ke dalam daftar penyakit hewan menular strategis di Indonesia yaitu rabies, anthrax, avian influenza, salmonellosis dan brucellosis. Penyakit zoonosis yang penting lainnya dan perlu mendapatkan perhatian adalah schistosomiasis, cysticercosis/taeniasis, tuberculosis, leptospirosis, toxoplasmosis, Japanese encephalitis, streptococosis/staphylococosis, dan clostridium (tetanus).

Penyakit zoonosis yang berkaitan dengan keamanan pangan (food borne disease) di Indonesia adalah camphylobacteriosis, salmonellosis, shigella, yersinia, verocyto toxigenic Escherichia coli (VTEC), dan listeriosis. Penyakit zoonosis eksotik untuk Indonesia adalah bovine spongiform encephalopathy (BSE), Nipah/Hendra virus, ebola, dan rift valley fever (RVF).

Beban Kesehatan

Zoonoses memiliki pengaruh yang besar terhadap kesehatan manusia sepanjang waktu, dan binatang-binantang liar selalu memiliki peran yang besar di dalamnya. Jumlah total penyakit zoonosis yang diketahui menurut catalog Taylor pada tahun 2001 ialah dari 1.415 penyakit pathogen manusia, 62%nya merupakan zoonosis (Taylor, et al., 2001). Dari waktu ke waktu, temuan mengarah pada kenyataan bahwa penyakit pathogen manusia umumnya berasal dari hewan. Lebih dari itu, kebanyakan penyakit infeksi berbahaya pada manusia adalah Zoonosis.

Jika diambil dari sisi pangan (food born diseases) Badan POM pada tahun 2004 melaporkan selama tahun 2003 telah terjadi 43 kasus keracunan makanan (daging) dan jumlah itu meningkat pada tahun 2004 menjadi 62 kasus yang tercatat dari Januari hingga September 2004 (Kompas, 11 Oktober 2004). Kasus-kasus tersebut merupakan kejadian yang diketahui/dilaporkan, diduga masih banyak kejadian lain, namun sering tidak diketahui/dilaporkan kembali pada pihak berwenang.

Beban Ekonomi

Dalam sudut pandang ini, beban ekonomi yang difokuskan ialah daging yang mayoritas dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia, seperti ayam, kambing, dan sapi. Kesehatan ternak perlu untuk diperhatikan dengan saksama mengingat bahwa kesehatan hewan ternak mereka akan mempengaruhi kualitas hewan ternak yang dihasilkan, seperti antrax pada hewan ruminansia dan flu burung pada unggas. Selanjutnya, kualitas produksi ternak yang dihasilkan akan mempengaruhi penghasilan ekonomi yang peternak peroleh.

Focus lainnya mengenai beban ekonomi ialah dari sudut pandang biaya kesehatan. Jika masyarakat terlanjur tertular penyakit zoonosis, baik yang melalui makanan, maupun yang tidak, tentunya akan menambah biaya pengobatan. Jika hal semacam ini sebelumnya dapat dicegah tentunya akan menekan biaya kesehatan negara.

Upaya pemerintah

Kebijakan pengendalian penyakit anthrax dan rabies didasarkan pada azas perwilayahan (zoning). Kebijakan pengendalian dan pemberantasan avian influenza (AI) dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk juga perwilayahan. Kebijakan pengendalian dan pemberantasan brucellosis didasarkan kepada tingkat prevalensi penyakit suatu wilayah. Kebijakan pengendalian salmonellosis didasarkan kepada pelaksanaan uji pullorum dan enteritidis, terutama wajib pada perusahaan pembibitan unggas dan peternakan ayam ras petelur (layer). Kebijakan pencegahan BSE dilakukan dengan berbagai macam cara terutama untuk tetap mempertahankan status Indonesia bebas BSE berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 367/Kpts/TN.530/12/2002 tentang Pernyataan Negara Indonesia Bebas BSE (Naipopos, 200).

Dari sisi keamanan pangan, Pemerintah member jaminan produk daging sehat yang dihasilkan Rumah Potong Hewan (RPH) diperoleh dengan menerapkan praktek higiene dan sanitasi atau dikenal sabagai praktek yang baik/higienis, good manufacuring practice (GMP) atau good slaughtering practice (GSP). Secara umum praktek higiene dan sanitasi tersebut meliputi higiene personal, bangunan, peralatan, proses produksi, penyimpanan, dan distribusi (Luning et.al., 2003) di Indonesia ditambahkan kehalalan dan kesejahteraan hewan

Kesimpulan

Zoonosis merupakan jenis penyakit yang masih dapat dicegah persebarannya, oleh karena itu akan lebih bijaksana kalau sedari sekarang kita selalu memperhatikan kesehatan kita, mulai dari kesehatan personal hingga kesehatan lingkungan yang kita tempati. [SP]

Sumber:

  1. Hilde Kruse,Anne-Mette Kirkemo, et al. “Wildlife as Source of Zoonotic Infections.” http://www.cdc.gov/ncidod/Eid/vol10no12/04-0707.htm (10 Februari 2010).
  2. Marr JS, Calisher CH. Alexander the Great and West Nile virus encephalitis. Emerg Infect Dis. 2003.
  3. Naipospos, Tri Satya. “Kebijakan Penanggulangan Penyakit Zoonosis Berdasarkan Prioritas Departemen Pertanian.” Lokakarya Penyakit Zoonosis.
  4. Pan American Health Organization. Zoonosis and communicable diseases common to man and animals. World Health Organization. 2001
  5. Retnani, Budi et al. Jaminan Keamanan Daging Sapi di Indonesia. Makalah Kelompok Falsafah Sains IPB. 2004
  6. Taylor LH, Latham SM, Woolhouse ME dalam Hilde Kruse. Risk factors for human disease emergence. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci. 2001.
  7. Wheelis M dalam Hilde Kruse. “Biological warfare at the 1346 Siege of Caffa.” Emerg Infect Dis. 2002.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: